Jalan-jalan ke Desa Wisata Lakkang

Dermaga Kera-kera

“One Day Trip, wisata desa Lakkang dan susur Sungai Tallo”.

Kalimat ini yang menarik perhatian ketika melintas di timeline twitter. Wah boleh juga ini. One day trip, artinya gak perlu nginap, pergi pagi/siang dan pulang sore/malam. Ok untuk point ini, soalnya lagi gak pengen ribet dengan soal inap menginap. Wisata desa lakkang, point ini juga ok. Sudah lamaaa dengar tentang desa Lakkang yang asri tapi belum pernah cocok waktunya untuk berkunjung ke sana. Susur sungai Tallo, ok banget inihhh. Tadinya bayangan saya naik perahu kecil semacam perahu waktu susur sungai pute’ di Rammang-rammang dulu šŸ˜€ ternyata bukan.

Nah, karena ke-tiga point tersebut oke, ditambah lagi pas ajak Anbhar dianya juga okeh, jadilah saya daftar ikutan One Day Trip, wisata desa Lakkang dan susur Sungai Tallo di Komunitas Jalan2seru Makassar. Ini trip pertama saya bareng mereka šŸ™‚

Danau UnhasMeeting point danau Unhas. Briefing sebelum berangkat.

Di hari Minggu yang cerah, 23 September 2012 tepat jam 1 siang, meluncurlah saya dan Anbhar menuju lokasi yang disepakati sebagai meeting point, dermaga danau Unhas. Membeli air mineral botol, beli nyuknyang, mengumpulkan duit ke PIC trip kali ini, poto-poto dan berkenalan dengan beberapa orang sambil menunggu lengkapnya personil yang sudah konfirmasi akan ikut. Tepat pukul 2 siang, akhirnya kk Rere membuka trip, menjelaskan beberapa hal yang harus ditaati dan berdoa bersama sebelum meluncur ke point ke dua, dermaga Kera-Kera sebagai titik penyebrangan ke Desa Lakkang.

Dermaga Kera-keraDermaga di desa Kera-kera.

Di desa Kera-Kera, motor bisa dititipkan di rumah penduduk dengan membayar biaya parkir tentu saja dan kemudian berjalan ke Dermaga Kera-Kera, gak jauh kok. Di dermaga, sudah ada 3 katinting (moda penyebrangan yang disusun dari 2 sampan kecil kemudian disambungkan oleh papan sebagai lantainya) yang menunggu penumpang untuk menyeberang ke dermaga Lakkang. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya katinting yang kami tumpangi akhirnya melaju (cailah hahaha) meeninggalkan dermaga Kera-Kera menuju ke dermaga Lakkang, perkiraan waktunya katanya sih 20-an menit.

Sungai TalloMenyeberang sungai Tallo

Jadilah sepanjang perjalanan itu saya menikmati pesona sungai Tallo. Jejeran pohon nipah di kiri kanan sungai, sesekali berganti jejeran bakau diselingi rumah panggung milik penduduk. Dan saya bergidik sendiri ketika menatap air sungai yang hijau kebiru-biruan, ntah dalamnya seberapa. Yang terlintas di pikiran adalah: berani sekali ini teman-teman kasi turun kakinya ke air sungai, bukannya ada buayanya ini sungai? hahahahha :))

Saya tidak lagi melihat jam ketika akhirnya katinting merapat ke dermaga Lakkang. Istirahat sebentar di point ke tiga, sebelum mengeksplore desa Lakkang yang asri.

Dermaga Desa LakkangDermaga Desa Lakkang

Dimulai dari warung di samping dermaga, kami berjalan kaki menyusuri pematang menuju jalan desa yang dilapisi paving block menghubungkan lorong satu dengan lainnya. Di awal perjalanan saya hanya menemukan rumah panggung di sisi kiri kanan jalan, jaraknya tidak terlalu jauh satu sama lain. Rumah panggung, pohon-pohon rindang, anak-anak kecil bersepeda dan bermain dengan riang, suasana yang tenang, sukaaaa!

Kami mampir ke bunker pertama yang terletak di belakang rumah salah satu penduduk. Ohya, konon kabarnya, di desa ini ada 8 bunker jepang peninggalan Jepang pada perang dunia kedua dan yang tersisa hanya 3 bunker saja. Bunker lainnya sudah hancur. Yang tersisa pun sudah rusak, sebagian tertimbun tanah dan sampah. Sayang sekali.

Bunker Jepang di Desa LakkangBunker Jepang di Desa Lakkang

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan desa menuju semacam hutan bambu tempat bunker lainnya berada. Saya suka hutan bambunya! Daun-daun bambu berdesir ditiup angin dan sinar matahari mengintip di sela-sela pohon bambu. Terobsesi berpoto di hutan bambu, akhirnya saya minjem sepeda yang lagi dipake sama Lhia. Alasannya sih buat properti poto, padahal akhirnya sepedanya saya pake keliling desa :))

Menyusuri Desa LakkangMenyusuri Desa Lakkang

Desanya nda terlalu luas, asik buat jalan kaki dan bersepeda. Apalagi di sana banyak anak-anak kecil yang ramah dan suka sekali berteriak: jadi saya harus bilang wow gituuuuu hahahaha. Ketika anbhar dan beberapa teman lagi sholat di masjid, saya dan beberapa teman lainnya memutuskan melanjutkan jalan-jalan melewati sekolah dasar, lapangan bola, pekuburan desa dan kantor desa. Melintasi pematang dan empang menuju ke warung samping dermaga Lakkang, untuk makan siang yang sudah telat.

Untuk makan siang, kami membayar sepuluh ribu rupiah per orang, dan masing-masing harus membawa nasi putih + air minumnya sendiri. Uang yang dikumpulkan hanya untuk lauk + sayur : udang, ikan bakar, raca-raca’ mangga, cobe’-cobe + sayur tumis. Assipa’na karaeng. Ditambah lagi nasi panas dan makan siangnya di pinggir sungai.. šŸ˜€

Makan siang di LakkangCalon makan siang

Makan siang di dermaga LakkangAnbhar dan Makan Siangnya

makan siang di sampanEnal memilih makan siang di atas sampan

Makan siang di Dermaga Makan siang di Dermaga

Budget:
Biaya menyeberang PP : Rp 5.000
Makan siang (lauk+sayur) : Rp 10.000
Menyusuri sungai menikmati sunset : Rp 5.000
Parkir motor di Kera-kera : Rp 2.000

Ohya, warung kecil di dermaga Lakkang menjual macem-macek kok, jadi jangan takut kelaparan. Ada mi siram, kopi, susu dan berbagai cemilan. Untuk cerita senja di sungai Tallo, saya ceritakan di postingan berikut ya šŸ™‚

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − 12 =