Jelajah Sulsel – 2 Hari, 3 Kabupaten, 7 Objek Wisata

Cerita ini bermula dari sebuah ajakan trip di sebuah grup jalan-jalan yang saya ikuti. Grup yang telah mengubah pandangan saya tentang dunia traveling. Selama ini yang tertanam di pikiran, bahwa traveling itu butuh biaya yang tidak sedikit. Namun sejak bergabung dengan teman-teman di sana, pandangan itu berubah. Mereka dengan senang hati berbagi tips-tips traveling, bahkan mengajak kita ikut bergabung dalam trip/perjalanan yang mereka adakan untuk membuktikannya.

Saya menyebut trip kali ini “Jelajah 3 Kabupaten”. Menjelajahi objek wisata di 3 kabupaten di Sulawesi Selatan dalam 2 hari. Trip ini sebenarnya trip yang ke-4 saya bersama mereka, setelah sebelumnya pernah juga ikut trip Lovely Toraja, Pulau Lajjukang dan Trip Bulukumba (Bira dan Kajang). Semuanya dilaksanakan di akhir tahun, seperti saat ini. Adapun 3 kabupaten yang kami datangi adalah Kab. Pangkep, Kab. Soppeng, dan terakhir Kab. Wajo. Kami sepakat menyewa sebuah bis ¾ dengan peserta lebih 20 orang.

Rumah Karst di Kabupaten Pangkep

Selama ini kita mengenal gugusan hutan batu karst di Maros dan Pangkep sebagai yang terbesar ke-2 di dunia yang mana terdapat goa-goa prasejarah. Namun nama rumah karst mungkin masih asing di telinga. Maklum rumah karst ini lokasinya cukup jauh sehingga masih jarang orang yang datang ke sana. Letaknya ada di Dusun Bantimurung (Kareha), Desa Bantimurung, Kec. Tondong Tallasa Kab. Pangkep. Untuk akses ke sana, rute yang ditempuh adalah dari Bungoro terus melewati kompleks Pabrik Semen Tonasa. Perjalan hampir 1 jam dari Bungoro lumayan menguras tenaga karena harus naik dan turun perbukitan. Ditambah rombongan kami saat itu menggunan bis.

rumahkarst

Rumah Karst di Dusun Bantimurung Kec. Tondong Tallasa Kab. Pangkep

Rumah karst ini adalah rumah yang ditempati tinggal, jadi bukan hanya sekadar hiasan. Bagian ruangan dalamnya dipahat dari batu karst. Sementara bagian luarnya tetap terlihat bentuk asli batu karst, hanya ditambahi pagar dan beberapa ornamen.

Bulu Dua, Cabbenge dan Watansoppeng di Kab Soppeng

Lamanya perjalanan pergi dan pulang dari rumah karst, membuat jadwal yang disusun sedikit berantakan. Target sebelumnya harus sudah ada di Kota Watansoppeng menjelang sore, namun perjalanan baru sampai di Bulu Dua. Di Bulu Dua rombongan singgah di sebuah warung dan dijamu minuman dan makanan ringan oleh pemiliknya, seorang pengusaha pariwisata di Soppeng. Sebenarnya beliaulah yang mengundang kami untuk datang jalan-jalan ke Soppeng. Warung tersebut lokasinya tepat menghadap ke Bulu Dua, 2 gunung yang menjulang dan dijadikan nama daerah tersebut. Sebuah tempat istirahat yang pas ketika melakukan perjalanan ke Kab. Soppeng.

Bulu Dua

Warung di Bulu Dua, tempat yang cocok beristirahat ketika perjalanan ke Soppeng. Warung ini berhadapan langsung dengan Bulu Dua (2 Gunung)

Setelah sholat maghrib, perjalanan dilanjutkan ke Cabbenge, daerah di Soppeng yang dulu terkenal sebagai penghasil tembakau di Sulawesi Selatan. Di penginapan milik pengusaha tersebut, kita dijamu makan malam dan selanjutnya berdiskusi tentang potensi pariwisata di Kab. Soppeng. Di sini juga kita menginap dengan gratis.

cabbenge

Wisma Appanang Cabbenge, penginapan kami di Soppeng

Di Subuh hari, langit masih gelap, rombongan sudah bergerak ke Kota Watansoppeng untuk menyaksikan kedatangan kelelawar yang habis mencari makan. Sayangnya ketika sampai di sana, kelelawar-kelelawar tersebut sudah nongkrong di pohon asam. Lagi-lagi kami terlambat, setelah sebelumnya kami juga terlambat menyaksikan mereka terbang pergi mencari makan. Kami akhirnya bergerak ke Villa Yuliana, bangunan peninggalan belanda yang jadi salah satu objek wisata andalan Kab. Soppeng. Setelah puas foto-foto, kembali ke penginapan untuk bersih-bersih, makan dan persiapan ke destinasi berikutnya.

soppeng

Watansoppeng di pagi hari. Mesjid agung, kelelawar di pohon asam, Villa Yuliana

Danau Tempe dan Kampung Pengrajin Kain Sutera di Kab. Wajo

Hari sudah terik ketika rombongan sampai di Sengkang, ibukota Kab. Wajo. Bis langsung menuju ke pinggiran Sungai Walanae di mana banyak perahu terparkir. Dengan 4 perahu bermesin tempel, rombongan bergerak menyusuri sungai menuju Danau Tempe. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, nampaklah beberapa rumah terapung yang membentuk seperti perkampungan di atas danau.

danau tempe1

Menyusuri sungai Walanae menuju Danau Tempe

Perahu kemudian merapat di sebuah rumah terapung milik warga. Rumah sederhana dengan dinding bambu dan seng ini sepertinya memang disiapkan hanya untuk menerima dan menjamu tamu. Hanya ada 2 ruangan, dapur dan ruang depan yang kosong. Kami pun duduk membentuk lingkaran. Sebagian besar rombongan belum saling mengenal, karenanya di sini diadakan sesi perkenalan. Sementara itu, suguhan teh panas dan pisang goreng jadi menu mewah yang menemani.

danautempe2

Berkumpul dan menikmati hidangan mewah, pisang goreng dan teh panas di atas rumah terapung di danau tempe

Puas menikmati keindahan Danau Tempe dan suguhan teh serta pisang gorengnya, rombongan kembali ke daratan. Bis segera mengantar ke Pakkanna, perkampungan pengrajin kain tenun sutera yang letaknya hanya 3 Km di utara Kota Sengkang. Memasuki perkampungan, suara alat tenun terdengar seperti bersahut-sahutan menyambut kedatangan kami. Di kawasan ini ada sekitar 30 rumah yang menjadi tempat pengrajin sutera, rata-rata adalah rumah panggung, rumah khas orang Bugis. Kamipun berpencar mencari sumber suara tersebut. Warga menjadikan kolong rumah panggung mereka sebagai tempat menenun. Nampak alat tenun dan pemintal benang sutera berbagai warna tertata rapi di kolong rumah bagian tengah dan belakang. Sementara di bagian depan dijadikan semacam galeri hasil tenunan warga. Tampak beberapa peserta trip seperti kalap dan memborong kain sutera yang harganya jauh di bawah harga pasar di Makassar.

kampungsutera

Rumah panggung di perkampungan pengrajin kain tenun sutera Pakanna. Kolong rumah jadi tempat menenun dan menampilkan hasil tenunan

Sore mulai menjelang, ketika kami meninggalkan kampung penghasil kain sutera tersebut dengan membawa ole-ole kain. 2 hari perjalanan, mengunjungi 3 kabupaten dengan beragam objek wisata menarik, yang turut memperkaya Sulawesi Selatan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 5: Jelajah Sulsel“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − six =